Friday, December 14, 2007

Allah bersama dengan orang yang sabar




Manusia Pokok

AstagfiruAllah Makhluk apa ini?

Itulah perkataan pertama yang keluar dari mulut saya bila melihat gambar ini.Walaupun,saya lewat mendapat tahu tentang kisah ini,namun ia cukup menginsafkan saya dan membenarkan bahawa Allah itu maha Agung dan tidak ada sesuatu yang dapat menandingi-Nya.

Gambar ini memang real,tidak menggunakan sebarang super impose atau teknologi computer.Lelaki ini mendapat perhatian masyarakat Indonesia,sehinggakan Pakar dermatologi dari Amerika Syarikat datang ke rumah lelaki tersebut.Doktor Anthony Gaspari dari Universiti Maryland berikhtiar untuk mengubati dan mengenalpasti penyakit yang dialami lelaki tersebut.Cerita lebih lanjut di MANUSIA POKOK.


Moga Allah menyembuhkan penyakit lelaki ini,dan berharap lelaki ini terus bersabar dengan ujian ini.

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

“Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang susah boleh Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya.” [1]

Allah berkata dalam surah Al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُون

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang Yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul”.






[1] (Hadis direkodkan Ibnu Hibban.Ibnu Hajar mengatakan Hadis ini sahih dan di sokong pula dari kajian yang dilakukan oleh Syeikh Qadir Al-Arnouth dalm Takhrij Al-Azkar An-Nawawi)

Baca Artikel Penuh>>

Thursday, December 13, 2007

Jangan berputus asa


Jangan berputus asa dari Rahmat Allah

Oleh:Dr Abdullah Yassin




قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥٣)وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ (٥٤) وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ العَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (٥٥) أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَى علَى مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (٥٦) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (٥٧) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (٥٨) بَلَى قَدْ جَاءتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (٥٩)

Terjemahan (Az-Zumar 39:53-59):

(53) Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(54) Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

(55) Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,

(56) Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajipan) tehadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).

(57) Atau supaya jangan ada yang berkata: “Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa”.

(58) Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab: “Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik”.

(59) (Bukan demikian), sebenarnya telah datang keterangan-keteranganKu kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”.





Sebab Turun Ayat:

Dari Ibnu Abbas (ra), katanya: Sesungguhnya penduduk Mekah berkata: “Mohammad mendakwa bahwa penyembah berhala, dan orang yang berdoa kepada selain Allah, dan orang yang membunuh, kononnya dosa-dosa mereka tidak akan diampuni oleh Allah. Oleh itu, untuk apa kita berhijrah dan memeluk agama Islam? Kita sudahpun menyembah berhala, membunuh manusia, dan kita telah melakukan syirik. Sehubungan dengan peristiwa inilah maka Allah Subhana Wa Taala turunkan ayat-ayat di atas. [Dikeluarkan oleh: Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawiyah]




Tafsir Ayat:

Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah

Maksudnya: Katakanlah wahai Rasul kepada orang-orang yang beriman yang telah melampaui batasan-batasan Allah, samada banyak melakukan maksiat ataupun tidak mengerjakan suruhan Allah: “Jangan kamu putus asa terhadap ampunan Allah”.




Setelah Allah SWT melarang mereka agar jangan berputus asa, lalu Allah menjelaskan kepada mereka tentang penyebab utama mereka mesti berbuat demikian sehingga tidak timbul lagi rasa ragu:

Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Maksudnya: Sesungguhnya Allah akan mengampuni segala dosa manusia tanpa mengira bagaimanapun besarnya dan banyaknya, kecuali dosa yang telah dikhaskan oleh Allah dalam Al-Quran bahwa Dia tidak akan mengampuninya, iaitu: dosa syirik.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

(An-Nisaa’ 4:48)

Keterangan: Ulama Ahlus Sunnah sependapat bahwa yang dimaksudkan dengan dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah ialah ketika ia berada di depan Allah SWT pada Hari Kiamat kelak, sekiranya ia tidak bertobat daripada dosa syiriknya sebelum ia meninggal dunia.




Barangsiapa yang enggan menerima kurnia yang amat besar ini, dan justeru berpendapat sebaliknya dan mengira berputus asa dari rahmat Allah adalah lebih utama, maka ia sebenarnya telah melakukan suatu kesalahan besar. Ini karena berita gembira tersebut bukan hanya warid (datang) dalam nash Al-Quran Al-Karim tetapi juga menjadi perjalanan Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sebagaimana sabdanya:

Artinya: Permudahkanlah, dan jangan suka mempersulit-sulitkan. Sampaikanlah berita gembira, dan janganlah membuat orang lari bertempiar (dari Islam)!

[HR Imam Bukhari]




Daripada Tsauban Maula Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) katanya: Tidaklah dunia dan apa yang terdapat di dalamnya lebih aku sukai jika dibandingkan dengan ayat ini: “Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah...”. Kemudian seorang lelaki bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang melakukan syirik? Lalu Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) terdiam sejenak kemudian beliau bersabda: dan orang yang melakukan syirik (disebutnya sebanyak 3 kali)[HR Imam Ahmad]

Daripada ‘Amru Bin ‘Anbasah (ra) katanya: Telah datang kepada Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) seorang lelaki tua sambil bertelekan di atas tongkatnya, lalu katanya: Ya Rasulullah, saya telah banyak melakukan penipuan dan maksiat, adakah ampunan bagiku? Rasul (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: Tidakkah engkau sudah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah?

Jawapnya: Sudah tentu wahai Rasul, bahkan saya juga bersaksi bahwa Tuan adalah Pesuruh Allah. Mendengar jawapan itu baginda Rasul lalu bertanya: “Penipuanmu dan maksiatmu telahpun diampuni oleh Allah”. [HR Imam Ahmad]

Hadis di atas semuanya menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni semua dosa jika kita benar bertobat dan ikhlas dalam beramal. Oleh itu manusia tidak sepatutnya putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah SWT. Sesungguhnya pintu rahmat Allah sangat terbuka luas.

Hanya saja setelah Allah SWT berjanji akan mengampuni segala dosa hamba-hambaNya, berikutnya Allah SWT menyuruh mereka agar melakukan dua perkara, iaitu:

1. Bertaubat dan kembali ke Jalan Allah

2. Mengikuti ajaranNya yang terbaik (Al-Quran dan Al-Hadis)




Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)

Maksudnya: Hai sekalian manusia kembalilah kepada Tuhanmu dengan bertaubat, kembalilah kepadaNya dengan mentaatiNya, sambutlah seruanNya iaitu dengan mentauhidkanNya sebelum azab datang menimpamu yang pada waktu itu tidak akan ada seorangpun yang akan menolongmu.




Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya

Maksudnya: Ikutilah apa yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu dalam tanzilNya iaitu Al-Quran dan Hadis RasulNya, dan jauhilah apa saja yang dilarangNya sebelum kedatangan azab kepadamu secara tiba-tiba, sedangkan kamu tidak menyadarinya.

Dua ayat di atas mengandungi ancaman dan amaran keras daripada Allah SWT kepada kita sekiranya kita tidak melaksanakan dua perkara di atas, iaitu: Taubat dan Mengikuti sebaik-baik apa yang telah diturunkanNya.

Dan setelah memberi mereka amaran dengan azab, Allah lalu menyebut pula illat (sebab) mengapa demikian, iaitu: Supaya jangan ada di antara mereka kelak pada Hari Kiamat yang berkata:

1. “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunai kewajipanku terhadap Allah, sedang aku termasuk orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)”.

2. “Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa”.

3. “Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik”.

Ungkapan penyesalan ini boleh kita dapati dalam ayat 56 dan 57 daru Surah Az-Zumar di atas.




Allah SWT menjawab penyesalan yang tidak berguna itu dengan firmanNya:

(Bukan demikian), sebenarnya telah datang keterangan-keteranganKu kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”

Maksudnya: Tidak ada gunanya lagi penyesalan pada Hari itu, sesungguhnya telah datang kepadamu penjelasan-penjelasanKu di dunia melalui lisan RasulKu dan dibacakannya pula kitabKu kepadamu, dan dia telahpun mengingatkan kamu kepada janji baik (wa’d) dan janji buruk (wa’iid), berita gembira (tabsyir) dan peringatan (indzar) tetapi sayangnya, kamu telah mendustakannya dan sombong terhadap ajarannya, kamu sebenarnya telah melakukan amal orang kafir dan mengikuti jejak langkah mereka yang ingkar dan durhaka.




Kesimpulan:

1. Orang yang beriman tidak sepatutnya mempunyai sifat putus asa terhadap Rahmat dan Ampunan Allah, walaupun mereka telah banyak melakukan dosa, karena Rahmat Allah Maha Luas dan Allah berjanji akan mengampuni segala dosa.

2. Agar Rahmat dan Ampunan Allah diperolehi dengan sempurna, maka kita mestilah melakukan dua syarat yang telah ditetapkan oleh Allah iaitu: Taubat Nashuha dan Mengikut sebaik-baik apa yang telah diturunkanNya iaitu Al-Quran dan Al-Hadis.

3. Allah menyuruh kita melakukan dua perkara di atas agar kita kelak pada Hari Pembalasan tidak menyesal di atas kelalaian kita ketika di dunia.

4. Penyesalan utama manusia pada Hari Pembalasan nanti ialah karena sikap mereka yang suka mendustakan ayat-ayat Allah (keterangan-keteranganNya) yang dibawa oleh RasulNya. Mereka sombong dan suka memperolok-olokkan agama Allah, kitabNya, RasulNya dan orang-orang yang beriman.

Baca Artikel Penuh>>

Peristiwa

Penulis di tengah bersama dengan Ustaz Hasrizal dan Edry

Peristiwa semalam dan hari ini


  1. Audio Ceramah Ustaz Hasrizal di MMU malam tadi, boleh didengari di Multiply rakan penulis di ZAINI MULTIPLY.




  1. Al-Azhar mengharamkan buku-buku yang menfitnah Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimAllahuanhu.Sumber Al-Watan

Baca Artikel Penuh>>

Tuesday, December 11, 2007

Ceramaha Umum



Pengumuman: Ceramah umum

Assalmualaikom.

Institusi Usrah Multimedia Universiti Cyberjaya Campus, berbesar hati menjemput semua untuk hadir ke Ceramah Umum yang akan disampaikan oleh Ustaz Hasrizal Abdul Jamil.Ceramah ini berkaitan dengan Aidil-Adha.Ustaz Hasrizal adalah pengendali laman web SAIFULISLAM.COM




Sedikit maklumat tentang beliau.

Hasrizal is currently completing his Masters in History and Civilization at the International Islamic University Malaysia. He holds a BA (Hons.) in Sharia & Islamic Studies from Mu’tah University, Jordan. Previously Hasrizal attended Izzuddin Shah School in Ipoh 88-92.

Building on his experience as Minister of Religion in Belfast Islamic Centre Northern Ireland, and several Islamic centres in the Republic of Ireland, as well as Assistant Director at Fitrah Perkasa, a training and consultancy firm in Malaysia, Hasrizal became the first Visiting Counselor and Muslim Chaplain at Malaysia’s National Heart Institute in February 2007. He is now a Research Associate at Malaysia Think Tank London.

Earlier, Hasrizal was a public researcher at Research Centre for Islamic Art, History and Culture (IRCICA) Istanbul.

Hasrizal is also a columnist in ANIS (Galeri Ilmu) and MAJALAH I (Karangkraf)



Kepada mereka yang bukan warga MMU,juga turut dijemput hadir.

#Makanan disediakan kepada hadirin.

Maklumat lanjut:

Tarikh: 12 December 2007

Hari: Rabu

Jam: 9 Malam.

Tempat: Multimedia Universiti Cyberjaya Campus,XR 1003

Bahasa pengantar: Bahasa melayu.


Sebarang persoalan boleh hubungi:

Yussamir Yusof
0126297870

Fakhru Razi Mohd Yusuf
0133626747

Baca Artikel Penuh>>

Friday, December 7, 2007

Hukum memakai gelang magnet



Perbincangan hukum memakai gelang magnet


الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على سيد المرسلين ، القائل فيما جاء في "

الصحيحين " : " من يرد الله به خيرأ يفقهه في الدين " ، وعلى آله وصحبه اجمعين ،

ومن تبعهمعلى فقههم وهديهم إلى يوم الدين


Segala puji bagi Allah,Tuhan yang sentiasa merahmati dan menyayangi hamba-nNya.Aku bermohon,lindungilah aku daripada menulis kerana kepentingan diri atau orang tertentu.

Mungkin ada yang tertanya-tanya kenapa penulis berdoa sebegitu,sedangkan selalunya artikel-artikel penulis tidak didahului dengan doa.Benar,memang ada sebab mengapa penulis berdoa sebelum menulis artikel kali ini.

Artikel kali ini berkaitan dengan hukum memakai gelang magnet dan penulis sendiri memakai gelang magnet,oleh sebab itu penulis berdoa agar terlindung dari berat sebelah dalam menulis artikel ini.Ramai yang dah maklum dengan fonomena pemakaian gelang di kalangan masyarakat kita.Pemakaian ini tidak lain dan tidak bukan,adalah kesedaran masyarakat kita tentang penjagaan kesihatan berteraskan teknologi magnet.Namun,ramai yang masih keliru dalam permasalahan hukum memakai gelang magnet ini.Sebahagian ada yang terus menghukumkan pemakaian gelang ini dengan hukum haram.Sebahagian lagi,membenarkannya secara mutlak tanpa menetapkan jenis dan sebab pemakaian gelang itu.


Setelah meneliti beberapa pandangan dan hujah yang dibawa oleh kedua-dua pihak.Penulis mendapati kedua-dua pandangan ini adalah tidak selaras dengan roh islam itu sendiri.Penelitian ini bukanlah berdasarkan nafsu serta kepentingan tersendiri,tetapi ia berdasarkan ilmu-ilmu yang berpasakkan kepada Quran dan Sunnah.Penulis bukanlah mengaku atau berlagak sebagai Mufti(sehinggakan ada yang menuduh penulis ‘berijtihad’.Sedangkan penulis hanya menaqalkan pandangan para ulama yang mu’tabar),tetapi apalah guna kita belajar agama,tetapi tidak tahu untuk memberitahu kebenaran kepada orang yang terkeliru!


Jika kita meneliti kembali hujah yang dibawa oleh mereka yang mengatakan HARAM memakai gelang magnet,sebenarnya hujah mereka tidak kukuh.Mereka cuba membawa dalil dari hadis yang menghukumkan pemakaian gelang adalah haram.hadis yang dimaksudkan itu ialah;

أن النبي -صلى الله عليه وسلم- رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال: ما هذه? قال: من الواهنة، قال: انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنًا، فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدًا

"Bahawasanya Nabi saw telah melihat seorang lelaki di tangannya ada gelang daripada tembaga, Nabi saw bertanya: "Apakah ini?" Orang itu menjawab: "ianya daripada al-Wahinah." Sabda Nabi saw: "Tanggalkannya segera, sesungguhnya dia tidak menambahkan kepadamu melainkan kelemahan, sesungguhnya jika kamu mati dan gelang itu ada padamu, kamu tidak akan berjaya selama-lamanya."


Kalaulah mereka berhati-hati dalam pengambilan sesuatu hadis dan meneliti kembali hadis ini,pasti mereka akan mengetahui bahawa hadis ini masih lagi dalam perselisihan akan darjatnya.

Para ulama berbeza pendapat akan kesahihannya. Hadith ini diriwayatkan daripada al-Hasan daripada 'Imran bin Husain. Para ulama berbeza pendapat apakah al-Hasan (الحسن) benar-benar mendengar daripada 'Imran bin Husain (عمران بن حسين) ataupun tidak. Demikian juga di dalam hadith ini ada periwayat yang bernama Mubarak bin Fadhalah (مبارك بن فضالة), ia juga diperselisihkan di kalangan ulama hadith.Namun demikian telah berkata Syeikh Al-Bani bahawa hadis ini adalah Dhaif dalam Dha'if Ibn Majah.

حدثنا علي بن أبي الخصيب حدثنا وكيع عن مبارك عن الحسن عن عمران بن الحصين أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال ما هذه الحلقة قال هذه من الواهنة قال انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا.

تحقيق الألباني : ضعيف


Bagaimanakah titik persetujuan yang mereka ambil, untuk menyatakan bahawa dengan menggunakan hadis ini mereka mahu mengharamkannya secara mutlak?Sedangkan hadis ini masih dalam perselisihan para ulama hadis!
Jika kita mengambil pendapat ulama hadith yang mensahihkan hadith tersebut, kita perlu benar-benar memahami maksudnya sehingga kita boleh berhukum dengannya dengan cara yang betul. Perkara ini perlu supaya kita tidak keras mengharam sesuatu yang sebenarnya tidak haram seperti yang kita sangka.[1]


Al-Syeikh Soleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan menjelaskan berkenaan pertanyaan Nabi saw: "Apakah bendanya ini." Yang zahir, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menunjukkan pengingkaran, namun dikatakan juga pertanyaan Nabi saw itu adalah untuk mengetahui tujuannya memakai gelang tersebut.
Manakala jawapan lelaki tersebut: "ianya daripada al-Wahinah." Membawa maksud, aku memakainya untuk mengelakkan al-Wahinah, untuk dia melindungi aku daripadanya (yakni melindungi daripada al-Wahinah). Al-Wahinah adalah penyakit yang kena pada tangan, dinamakan di kalangan orang Arab dengan al-Wahinah, termasuk di dalam kebiasaan mereka memakai gelang untuk berlindung daripada kesakitannya dan mereka percaya gelang tersebut akan
melindungi dari penyakit tersebut. [2]


Manakala Al-Syeikh 'Abdul Hakim (Kuliah al-Syariah Uni. Al-Imam Muhammad bin Saud) di dalam laman islamtoday berkata: Para ulama berbeza pendapat tentang maksud al-Wahinah, namun mereka bersepakat akan illah (sebab) larangan tersebut.Hal ini di jelaskan oleh Mohamad Abdul Kadir bin Sahak dalam salah satu artikelnya, bahawa illah (sebab) larangan tersebut ialah kerana orang menjadikannya (al-Wahinah) seperti tangkal, yang terdapat larangan menggantungnya.[3] Maka untuk mengatakan bahawa haram atas zahirnya hadis tersebut tanpa meneliti kembali illah hadis tersebut,maka tertolak pendapat mengatakan bahawa haram secara mutlak pemakaian gelang!


Berdasarkan hujah Al-Syeikh ‘Abdul Hakim di atas,pendapat kedua juga adalah tertolak.Kerana untuk membenarkan pemakaian gelang perlulah ada illahnya,aiitu sebab kenapa memakainya.Jika hanya untuk menunjuk-nunjuk dan berhias semata(untuk lelaki),maka hal ini amat ditolak oleh Islam.Maka sebab itu,pandangan pertengahan dalam permasalahan ini amatlah sesuai untuk meletakkan hukumnya.


Untuk bahagian ini,penulis akhiri dengan kata-kata Syeikh Muhammad Sa’di:

إذا ثبت نفع السوار طبيَّا فلا بأس به، أما إن لم يكن له نفع ما، فلا يلبس لأنه يكون حينئذ من جنس لبس التمائم والودع
.

"Jika terbukti kemanfaatan gelang tersebut sebagai perubatan, maka perbuatan itu tidak mengapa, adapun jika tidak ada padanya sebarang manfaat, maka jangan dipakaikan kerana ketika itu ia termasuk dalam kumpulan memakai tangkal dan azimat." [4]


Jika ada pandangan dan penulisan ini menyalahi mana-mana pandangan yang lebih rajih,maka penulis bersedia menukar pandangan ini dengan serta-merta.


[1] Mohamad Abdul Kadir bin Sahak

[2] Al-Syeikh Soleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan

[3] Mohamad Abdul Kadir bin Sahak

[4] Ustaz Muhammad Sa'di (Penyelidik laman islam-online)

Baca Artikel Penuh>>

Thursday, December 6, 2007

Ulama'


Berkenalan dengan Al-Imam Yusuf Al-Qardhawi.


Keazaman seorang lelaki tidak boleh diukur dengan umurnya atau pun berat badannya atau pun hartanya. Tetapi,ia diukur atas pencapaian kerja, usaha yang di lakukan, kearah mana dia membelanjakan wangnya membantu dan menyokong saudara-saudaranya di dalam kerja agama mereka.Bacaan lanjut di SUARAMINDA

Baca Artikel Penuh>>

Tuesday, December 4, 2007

Laman rasmi Yussamir di SUARAMINDA


sekadar gambar hiasan.Tidak ada kena mengena dengan entri kali ini.

Laman rasmi Yussamir di SUARAMINDA

Oleh:Yussamir yusof
Cyberjaya

“Berat sangat pengisian kat blog kau ni Yus.Bukan semua orang faham fasal hadis-hadis ini.Bukan tak boleh kau tulis semua ini,tapi kau kena faham bukan semua yang mahir dan memahami istilah-istilah ini semua.Aku cadangkan kau buat satu lagi blog,blog yang satu lagi tu kau isi dengan bahan-bahan yang ringan.Macam tazkirah ringan-ringan ke.Tambahan pula,kau akan ada buku sendiri dan ada pembaca tersendiri.So kalau boleh buatlah satu blog lagi.”

Panjang lebar saranan yang diberi Saudara Firdaus kepada penulis.

Memang dah lama memikirkan hal ini.Sebabnya penulis rasa tidak semua yang dapat hadam apa yang penulis coretkan kat blog ini.Akhirnya penulis membuat keputusan untuk membina satu lagi laman blog, yang akan menjadi laman rasmi penulis sebagai Penulis bebas.Dalam blog itu bukan hanya akan memuatkan artikel-artikel yang ringan selain memuatkan semua info tentang buku-buku dan projek yang sedang penulis laksanakan.

Alhamdulilah,setelah selesai menyiapkan buku pertama penulis(masih menunggu ‘approval’ dari Editor,sebelum diterbitkan) penulis kini giat mencari bahan untuk projek seterusnya bersama Saudara Firdaus dan seorang lagi sahabat.Projek ini melibatkan 3 orang penulis dari bidang pengajian yang berbeza.Namun tujuan dan harapan yang sama telah membuahkan sebuah idea, yang diterjemahkan melalui sebuah buku yang bakal dihidangkan kepada para pembaca.InsyAllah buku ini bukan hanya sekadar sesuai dibaca oleh Muslim,tetapi ia juga akan menarik minat bukan Muslim untuk memilikinya.Seperti kata Puan Ainon,orang besar PTS.katanya, “kita mahu memandaikan bangsa”!

Semangat dan komitmen beliau untuk memandaikan bangsa,memberi kami suntikan edrinalin untuk menghasilkan sesuatu yang dapat memandaikan bangsa.Bukan hanya sekadar memandaikan sebangsa,tapi ia akan bakal merentasi sempandan bangsa,fikrah dan agama.

Mungkin orang akan kata ini hanya sebagai satu retorik atau ayat promosi,namun penulis merasakan sudah tiba bahan-bahan yang memandaikan bangsa membanjiri semua toko-toko buku.Malu rasanya bila mendapat tahu,kajian yang dilakukan oleh seorang pensyarah mendapati Mahasiswa Malaysia hanya membaca 12 buah buku dalam masa 3 tahun.Ah!! “Itu hanya kajian secara rambang”,perkataan ini selalunya akan keluar di mulut Mahasiswa Malaysia.Namun kenapa kita tidak mahu tunjukkan kebenaran dengan membawa bukti?

Akhirnya kita seperti ‘anjing yang menyalak pada harimau’ (pepatah yang direka,masakan tidak boleh!Karam Sigh Walia mereka-reka tidak pula mahu dibantah).Hanya pandai menyalak tapi tak berkuasa untuk melawan,malahan lari dari berhadapan dengan harimau.

Kepada pembaca paradigma yang mahukan sedikit kelainan dan keringanan dalam pembacaan.Penulis berharap anda semua dapat berhijrah ke blog SUARAMINDA.Mungkin pada awalnya,bahan-bahan pengisiannya tidak terlalu menepati citarasa.Namun sedikit sebanyak dapat memberi sesuatu kepada para pembaca setia PARADIGMA.Paradigma akan meneruskan kehidupan seperti biasa,tidak mati ditelan SUARAMINDA.Para pembaca mempunyai hak,sama ada mahu ke Paradigma atau ke Suaraminda.Blog suaraminda akan lebih aktif apabila buku projek kedua saya ini aktif.Kepada para pembaca,jangan keliru,saya akan kendalikan kedua-dua blog ini tanpa ada berat sebelah. :D

Untuk lebih jelas,blog suaraminda adalah blog rasmi bagi saya sebagai penulis sambilan.Doakan saya dan rakan-rakan untuk terus berkarya,semata-mata untuk dapat keredhaan Allah di samping memandaikan sebangsa dan yang utama seagama.

Laman Rasmi http://suaraminda.blogspot.com

Baca Artikel Penuh>>

Saturday, December 1, 2007

Kembara Ke Dunia Keemasan Ilmu Hadis



Ustaz Azlan

Kembara Ke Dunia Keemasan Ilmu Hadis
Melalui Manhaj Salaf(Mutaqadimin)

Oleh:Yussamir yusof
Cyberjaya
1 December 2007

#Artikel ini ditulis berdasarkan apa yang saya perolehi dari pembelajaran secara talaqi dengan Ustaz Azlan di Darul Fuqaha’ pagi tadi(saya pergi bersama dua orang lagi sahabat saya).Tidak semua dapat saya catatkan kerana MP3 yang digunakan untuk merakam tidak dapat didengari.(kesian,sebab takde software act).Saya catatkan apa yang saya ingat dan apa yang pernah saya dapat melalui penulisan-penulisan Ustaz Azlan.


Berkenalan dengan Manhaj/Cara Ulama Mutaqadimin dalam ilmu hadis memberi kesan yang cukup mendalam kepada saya.Salah faham dan ketidak-adilan saya terhadap mereka sebelum ini, menjadi pengajaran dan mematangkan saya terhadap ilmu hadis.Saya berterima kasih kepada Ustaz Azlan[1], yang banyak mengajar dan mendedahkan saya tentang hal ini melalui tulisan-tulisan beliau di Al-Ahkam.Tulisan-tulisan beliau berkenaan dengan Manhaj Ulama Hadis Mutaqadimun sewajarnya di teliti dan dihadam oleh mereka yang mempelajari dan mengkaji ilmu hadis.

Alhamdulilah hari ini saya berpeluang untuk belajar secara terus dengan beliau di Darul Fuqaha’.Tajuk yang dibentangkan oleh beliau adalah “menghormati kajian hadis Salaf(Mutaqadimin)”.Antara isi kandungan pembentangan yang cukup menarik minat saya ialah, tentang ‘salah faham terhadap Ulama Hadis Mutaqadimin.’

Sebelum kita pergi jauh dalam membahaskan salah faham ini,moleklah kalau saya terangkan serba ringkas maksud Manhaj Mutaqadimin.Manhaj al-mutaqaddimin adalah manhaj(jalan/cara) dan hasil kajian pakar-pakar hadith yang menjadi rujukan pada zaman kegemilangan periwayatan hadith.Zamannya pula bermula daripada zaman sahabat dan berkembang dengan lebih khusus pada kurun kedua dan ketiga Hijrah.Sebahagian Ulama hadist menghadkan tempoh zaman Mutaqadimin kepada akhir 300 Hijrah.Pandangan ini berteraskan kepada Sabda Nabi Muhammad:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah pada kurunku,kemudian kurun seterusnya,kemudian kurun seterusnya.(kurun=100 tahun)”[2]

Walaubagaimanapun,penghadan tempoh atau zaman ini hanyalah sebagai pemudah cara bagi menentukan tempoh zaman itu,dan bukannya pendapat yang tepat.

Alhamdulilah,setelah kita mengenali serba ringkas tentang apa itu Manhaj Mutaqadimin dan tempoh zaman Mutaqadimin,kita beralih pula kepada perbincangan tentang “Salah faham terhadap Ulama Hadith Mutaqadimin.”(selepas ini saya akan gunakan ‘SALAF’ bagi menggantikan perkataan Mutaqadimin)



Salah faham

penulis bersama Dr Abdullah Yassin di Konvesyen sunnah tahun lepas

Salah faham utama yang merebak di kalangan pencinta ilmu-ilmu hadith ialah,memandang rendah terhadap kajian Ulama Salaf.Salah faham ini berlaku apabila sebahagian daripada pencinta hadith ini beranggapan bahawa tidak semua hadith sampai kepada Ulama Salaf dan masih bertaburan.Mereka beranggapan bahawa zaman kini lebih mantap oleh kerana kitab-kitab yang ditulis oleh Ulama Mutaakhirin sudah terkumpul,berbeza dengan zaman Salaf dimana kitab-kitab hadis belum terkumpul lagi.

Pemahaman ini tidaklah tepat untuk dinyatakan terhadap ulama’ Salaf dan menjadi satu penghinaan terhadap usaha gigih mereka dalam mengumpulkan hadith-hadith Nabi.Al-Imam Baihaqi iaitu pengumpul dan penyusun Kitab Sunan Kubra pernah mengatakan :
“Semua hadith-hadith telah dapat dikumpul.”

Selain daripada itu, Ibn Rajab al-Hanbali (795H) juga berkata di dalam bukunya Syarh Ilal al-Tirmidzi: ‘Kalaulah tidak kerana buku-buku yang telah ditulis terdahulu dalam ilmu ini, pasti ia tidak akan diketahui lagi pada hari ini’.

Al-Iraqi juga pernah menyatakan bahawa terdapat 4 ribu penulis hadis dalam kampungnya,ini belum lagi di kawasan-kawasan lain.Berdasarkan kenyataan-kenyataan ini,maka pemahaman atau anggapan bahawa pada zaman Salaf belum lagi terkumpul hadith-hadith kepada mereka adalah pendapat yang tertolak.

Oleh sebab itu kita dapati Ibn Hajar yang merupakan antara ulama terkenal di kalangan al-Mutaakhirin pernah menyebut bahawa, kita perlu ‘taqlid’ kepada hasil kajian dan pendapat ulama Salaf seperti yang beliau sebutkan di dalam bukunya al-Nukat ‘Ala Ibn al-Solah. Pernyataan ‘taqlid’ juga disebut oleh seorang lagi imam al-Mutaakhirin iaitu al-Sakhawi dalam Fath al-Mugith.Pendapat ini secara tidak langsung menyangkal pemahaman bahawa zaman Mutaakhirin adalah zaman terbaik dalam pengkajian ilmu hadith. Benar seperti kata salah seorang tokoh hadith di kurun keempat Hijrah, Ibn Hibban al-Busti (354H) yang telah menulis kata-kata indah di dalam bukunya al-Majruhin 'Kalaulah tidak kerana mereka, pasti hadith akan hilang dan lenyap. Kalaulah tidak kerana mereka, pasti ahli kesesatan dan hawa nafsu akan bermaharajalela dan pasti ahli bid’ah dan kejahilan akan berkuasa’.



Penulis bersama dengan Ustaz Maszlee


Salah faham seterusnya adalah, beranggapan bahawa Muhadithin Salaf sama tarafnya dengan Muhadithin Mutaakhirin.Ada juga yang bertindak keterlaluan dengan beranggapan bahawa Muhadithin Mutaakhirin lebih hebat dari Muhadithin salaf,sehinggakan menolak mentah-mentah kajian mereka.Anggapan dan sangkaan sebegini ini seharusnya dibuang jauh-jauh dari pemikiran kita.Masakan Muhadithin Mutaakhirin lebih hebat daripada Muhadithin zaman Salaf?Sebahagian daripada kita bermudah-mudah terhadap ketokohan Muhadithin ini dengan menyamakan di antara Imam Ahmad Ibn Hanbal (241H) dengan al-Hakim (405H), Yahya Ibn Ma’in dengan al-Khatib al-Baghdadi (463), Ali Ibn al-Madini (234H) dengan al-Nawawi (676H), Abu Daud (275H) dengan al-Zahabi (748H) dan lain-lain lagi.

Benar,bahawa kesemua nama-nama yang disebut ini adalah tokoh ulama-ulama hadith,namun untuk menyamakan kedudukan mereka dalam bidang ini maka ia sama sekali satu kerendahan akal fikiran. Sesiapa yang mengkaji dan meneliti riwayat hidup Muhadithin Salaf seperti Bukhari,Ali Madini,Ahmad,Abu Daud pasti akan melihat jurang perbezaan yang amat ketara antara mereka dengan Muhadithin Mutaakhirin. Bagi mereka yang ingin tahu hakikat sebenar perkara ini, lihatlah apa yang ditulis oleh al-Hakim dalam bukunya Ma’rifat Ulum al-Hadith dan al-Zahabi dalam bukunya al-Muqizoh. Kita dapati mereka berdua telah menyusun dan menghuraikan apa yang telah dilakukan oleh imam-imam terdahulu sehinggakan al-Zahabi sendiri menyebut di dalam buku al-Muqizoh bahawa menilai kesahihan hadith dan kedhaifannya pada zaman beliau adalah ‘sangat susah’ atau lafaz arab yang beliau gunakan ialah ‘asir jiddan’.

Dan renungkanlah juga kisah Ulama-ulama Salaf ini dalam buku-buku seperti pendahuluan al-Jarh wa al-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim dan buku al-Rihlah Fi Tolab al-Hadith karya al-Khatib al-Baghdadi (463H).Pasti kita akan menangis dan terharu dengan pengorbanan dan usaha gigih mereka dalam mencari hadith dan mengumpulkannya.

Selain daripada itu,Kajian ulama Salaf adalah lebih hebat, lebih sempurna, lebih menyeluruh dan lebih lengkap berbanding ulama selepas mereka sehinggalah kepada ulama masa kini. Adalah tidak wajar sekiranya kita hanya mengakui mereka adalah tokoh atau pakar sedangkan kita menyamakan sahaja manhaj dan hasil kajian mereka dengan muhaddith terkemudian atau dengan muhaddith moden masa kini. Sedangkan mereka adalah ulama yang berinteraksi dengan periwayat hadith terkemuka secara langsung, manakala ulama hadith selepas mereka hanyalah berinteraksi dengan buku-buku dan hasil kajian ulama terdahulu.Fikir-fikirkanlah....

Cukuplah sekadar dua salah faham yang saya rasakan perlu diutarakan atau diperbincangkan di sini.Tujuan diperbincangkan salah faham ini ialah,mendedahkan kerendahan akal fikiran kita terhadap Ulama Salaf.Betapa kita telah menyombongkan diri serta membutakan akal fikiran dalam memahami dan mendalami Manhaj mereka.Sungguh sayang kalau kita mensia-siakan hasil kajian mereka hanya atas dasar-dasar yang kita sendiri tidak fahami dan dalami.


Bukanlah saya menolak seratus peratus kajian dan method yang dilakukan oleh Ulama Mutaakhirin, hanya disebabkan saya belajar dengan Ustaz Azlan.Tetapi saya mahu membawa pemikiran kita dan kesedian kita untuk meneliti dan mengkaji kajian ulama hadis Mutaqadimin berbanding dengan kajian Ulama Mutaakhirin,malahan ulama hadis masa kini.Kenapa saya katakan begitu,kerana mereka hidup di zaman awal hadis. Asas-asas kajian yang mereka lakukan telah diwarisi oleh ulama-ulama hadith zaman berzaman sehinggalah kepada kurun kedua dan ketiga Hijrah yang digelar zaman keemasan atau kegemilangan periwayatan hadith.

Di zaman mereka juga muncul masalah-masalah baru yang memberi kesan terhadap kajian kesahihan dan kedhaifan hadith. Maka mereka telah menanganinya dengan penuh ketelitian berdasarkan kaedah yang telah diwarisi daripada generasi sebelumnya. Hadith-hadith sahih telah diwarisi oleh para sahabat dan dipelihara dengan amat teliti. Seterusnya ia diwariskan kepada ulama zaman berzaman selepas mereka dengan ketelitian yang sama tanpa berkurang atau bertambah.


Bersama dengan SS Mohd Asri Zainal Abidin,mufti perlis


Dr. Nasir Fahd, salah seorang pengkaji hadith masa kini daripada Arab Saudi pernah meringkaskan sifat pengkaji hadith yang digelar al-Mutaqaddimun dalam bukunya ‘Manhaj al-Mutaqaddimin Fi al-Tadlis’ dengan menyatakan bahawa mereka adalah golongan awal yang telah memelihara sunnah, merantau ke seluruh tempat di mana wujudnya sunnah, menapis hadith antara sahih dan dhaif, membuat penilaian terhadap para periwayat, mengkaji kecacatan atau kesilapan pada riwayat-riwayat, mengarang buku-buku bermanfaat sehinggalah kesemuanya diwariskan kepada umat sepanjang zaman”.

Saya mengakhiri penulisan ini dengan menyeru kepada semua pencinta-pencinta ilmu hadith, agar kembali meneliti dan mengutamakan kajian Ulama hadith Mutaqadimin dalam semua hal yang berkaitan dengan ilmu hadis.

Sesungguhnya kita terhutang budi dengan mereka. Sedar atau tidak, kita sebenarnya tidak mengenali mereka dan tidak menghargai jasa mereka. Sebahagian kita yang menuntut ilmu hadith lebih mengagungkan ulama moden masa kini sedangkan apalah ilmu yang ada pada ulama moden tanpa ilmu yang telah dikumpulkan dan disusun oleh ulama zaman silam? Marilah kita mengenali mereka kembali terutama ulama di zaman keemasan periwayatan dan kajian hadith iaitu sekitar kurun kedua dan ketiga Hijrah. Marilah kita hargai jasa mereka dan contohi kajian mereka. Itulah kajian terbaik, terhebat dan paling tepat berdasarkan mereka adalah pewaris kajian terdahulu.


[1] Ust Azlan Abd Aziz.

Azlan Bin Abd. Aziz berasal dari Alor Setar, Kedah. Beliau mendapat pendidikan awal sehingga menengah di Sekolah Menengah Kebangsaan Agama Kedah, kemudian melanjutkan pelajaran dalam bidang Bahasa Arab di Universiti Al Bayt, Jordan sehingga memperolehi Ijazah Sarjana Muda dalam Bahasa Arab.
Semasa berada di Jordan, beliau mula mengenali secara lebih mendalam tentang ilmu pengkajian hadis Nabi SAW. Beliau sempat belajar sama ada secara formal atau tidak formal daripada ulama-ulama Jordan termasuklah ahli hadis terkemuka pada masa ini iaitu Syeikh Syuaib al Arnaouth. Sejak itu tersemat di dalam hati beliau keazaman untuk membantu menyebarkan ilmu dan maklumat tentang hadis Nabi SAW agar dapat dikongsi oleh masyarakat umum.

Sekembalinya ke Malaysia, beliau melanjutkan pengajian untuk mendapat Diploma Perguruan daripada Maktab Perguruan Islam, Bangi. Sekarang beliau bertugas sebagai guru di Sekolah Menengah Kebangsaan Bandar Tun Razak, Cheras sambil menyambung pengajian di Universiti Malaya, Kuala Lumpur dalam jurusan Bahasa Arab.


Syeikh Syuib Al-Arnouth
Syuaib al Arnaouth yang berasal dari Albania, membesar di Syria dan sekarang masih hidup dan menetap di Jordan. Beliau merupakan seorang pengkaji hadis yang dianggap sebagai pewaris generasi al Albani. Beliau telah lama berpengalaman mengkaji hadis-hadis di dalam buku-buku yang beliau telah semak. Di antara buku yang telah disemak oleh beliau ialah Syarhu al Sunnah oleh al Baghawi, Sahih Ibn Hibban. Syarh Musykil al Athar oleh al Thohawi (321H), Siyar A�lam al Nubala� oleh al Zahabi (748H) dan banyak lagi. Namun hasil karya beliau yang paling terkenal ialah kajiannya terhadap al Musnad karya Ahmad bin Hanbal. Beliau mengetuai sekumpulan pengkaji hadis lain melakukan semakan terhadap setiap hadis buku al Musnad (jumlahnya lebih kurang 28,000 hadis) dan menjelaskan samada hadis itu sahih atau tidak. Inilah kali pertama buku al Musnad ini habis disemak kerana Ahmad Syakir yang telah mula menyemaknya tidak sempat untuk menghabiskannya. Syuaib al Arnaouth telah melihat segala kajian yang sempat dibuat oleh Ahmad Syakir lalu menyempurnakannya dan melakukan pembetulan di tempat yang sepatutnya sehinggalah buku itu siap. Buku al Musnad telah dicetak dalam 50 jilid oleh Muassasah al Risalah. Beliau sekarang mengetuai unit penyelidikan bagi syarikat Muassasah al Risalah atau Risalah Publishers. Pada tahun 2004, syarikat ini telah pun menerbitkan buku Sunan al Daraquthni sebanyak 6 jilid dan disemak hadis-hadis di dalamnya oleh beliau serta pengkaji-pengkaji lain. Di antara buku yang menceritakan secara khusus tentang beliau dan cara pemikiran serta kajian beliau ialah buku al Muhaddith, Syuaib al Arnaouth yang dikarang oleh Ibrahim al Kufaji dan diterbitkan oleh Dar al Basyir, Jordan.

[2] HR Muslim

Baca Artikel Penuh>>